Recent Posts

header ads

Pengaruh Teknologi

Berebut Pengaruh Teknologi Nirkabel

Akhir bulan ini, sebagian besar "orang Jakarta" diperkenalkan pada satu layanan produk baru dari PT Telkom Divre II dengan nama TelkomFlexi yang memanfaatkan teknologi CDMA. Teknologi CDMA ini oleh pemerintah seolah-olah dijadikan satu-satunya solusi untuk mengantisipasi sistem telekomunikasi di Indonesia yang sepertinya jalan di tempat. Sebetulnya Divre II tergolong terlambat kalau dibanding Divre V yang sudah memanfaatkan teknologi tersebut sejak beberapa tahun lalu yang dikenal dengan nama C-Phone.< nama dengan dikenal yang lalu tahun beberapa sejak tersebut teknologi memanfaatkan sudah V Divre dibanding kalau terlambat tergolong II Sebetulnya tempat. di jalan sepertinya Indonesia telekomunikasi sistem mengantisipasi untuk solusi satu-satunya dijadikan seolah-olah pemerintah oleh ini CDMA Teknologi CDMA. TelkomFlexi Telkom PT dari baru produk layanan satu pada diperkenalkan Jakarta? ?orang besar sebagian ini,>

Teknologi CDMA merupakan salah satu teknologi nirkabel yang bisa dipakai saat ini. Kalau menyebut nirkabel, orang sudah mengasumsikan ke teknologi radio yang merupakan cikal bakal dari seluruh teknologi telekomunikasi yang terus berkembang.

Revolusi teknologi nirkabel berjalan paralel dengan teknologi komunikasi suara (ponsel), teknologi penyiaran (televisi dan radio), dan teknologi Internet. Di akhir tahun 1990-an yang lalu, kelihatannya ketiga teknologi ini akan segera bergabung menjadi satu, ditengarai dengan kemampuan yang semakin lama semakin sudah tidak bisa dibedakan.

Amerika dan Eropa selalu berpacu dalam pengembangan teknologi nirkabel sehingga kita menjadi cukup bingung untuk mengikuti perkembangannya. Dan jeleknya, produk yang dihasilkan itu tidak kompatibel satu sama lain sehingga investasi yang sudah ditanamkan terkadang harus dibuang jika ingin mengikuti kemajuan. Pada gambar grafik (bawah) menyebabkan kita lumayan pusing memilih teknologi yang tersedia karena semuanya bertumpuk-tumpuk menjadi satu.

Teknologi GSM yang kita gunakan saat ini mempunyai mobilitas paling tinggi. Di mana saja kita bisa menelepon dan menerima telepon. Tetapi lebar pita yang dipakainya sangat kecil, tidak cocok untuk mengakses data. Akibatnya, kepanjangan dari GSM dipelesetkan menjadi "geser sedikit mati" masih melekat di teknologi GSM yang membutuhkan radio base atau tower yang banyak.

Teknologi GSM ini merupakan lanjutan dari teknologi DECT yang sudah banyak ditinggalkan karena penerapannya tidak seperti yang diharapkan. Teknologi DECT sebetulnya cukup andal untuk dipakai mengakses suara atau Internet, hanya radio base-nya harus banyak tersebar melayani pelanggannya.

Mereka yang berpengalaman dalam teknologi DECT mengungkapkan, teknologi DECT ini sengaja dibunuh oleh perusahaan-perusahaan besar untuk memberi jalan GSM masuk ke pasar yang lebih luas sehingga implementasinya di Indonesia juga sempat mandek di banyak tempat.

Saat ini, pengembang teknologi DECT kebanyakan perusahaan kecil yang tetap bertahan memasarkan produknya, walaupun sudah diserang habis-habisan oleh teknologi GSM. Teknologi DECT menggunakan frekuensi yang tergolong bebas pakai, yaitu di 1.880-1.900 MHz dan biasanya dipakai untuk telepon nirkabel yang dipakai di rumah dengan jarak sekitar 200-500 meter.

Yang dekat dengan teknologi DECT, yaitu Bluetooth yang pada awal tahun 2000 betul-betul sangat "hot" sehingga semua ingin menerapkan teknologi tersebut. Dalam perjalanan waktu teknologi ini banyak kekurangannya dan kalah pamor dengan 802.11. Saat ini Bluetooth masih dipakai dengan dikombinasi ke pesawat GSM, di mana pemakainya tidak perlu khawatir dengan kabel yang seliweran di badan.

Teknologi GPRS yang dikembangkan dari GSM mempunyai mobilitas dan kecepatan pemindahan datanya yang tinggi. Teknologi ini banyak dipakai di Eropa yang sesuai dengan geografinya, yaitu jangkauannya yang kecil. Namun, kalau diterapkan di Indonesia yang luasnya bukan main, akan menjadikan lautan menara BTS seperti yang kita lihat sekarang di Jakarta atau kota besar lainnya.

Pesaing GPRS adalah teknologi 3G, termasuk di dalamnya sistem CDMA-2000 yang oleh Pemerintah Indonesia sangat diharapkan sebagai teknologi masa depan. Teknologi 3G ini juga didukung oleh satu forum independen, yaitu Universal Mobile Telecommunications System (UMTS) di Inggris dan akan bisa berkembang di luar yang kita bayangkan.

Dengan keunggulan jumlah radio base yang relatif lebih sedikit, teknologi CDMA atau 3G ini sebetulnya sangat cocok untuk dikembangkan di Indonesia. Hanya saja, penerapan yang saling tumpang tindih dengan lisensi GSM menyebabkan keadaan yang ruwet, terutama jika dikaitkan dengan bisnis yang "ujung-ujungnya duit".

Bagaimana ke depannya? Pertanyaan ini sulit dijawab karena semua sistem dan teknologi masih berebut daya tarik dan memperbaiki unjuk kerjanya. Semua sistem seolah-olah mau bergabung satu sama lain. Misalnya, ada teknologi perangkat telepon genggam yang menggunakan 802.11 sebagai distribusinya, juga ada teknologi 3G atau GPRS yang bisa dihubungkan ke 802.11.

Hanya saja, dalam kaitan peraturan dan undang-undang, pemerintah harus konsisten dengan pernyataan fixed wireless (tidak bisa dipindah-pindah) dan mobile (ponsel). Karena kalau dilihat dari gambar, jelas sekali teknologi CDMA atau 3G itu punya mobilitas tinggi, bukan dirancang untuk fixed wireless. Lihat saja kenyataannya, perangkat fixed wireless yang mestinya sudah ada di pasaran Indonesia, belum tersedia untuk dua bulan ke depan.

Post a Comment

0 Comments